"Udah liat dia Ra! Udah ketahuan, gimana ni?! Turun turun!"
"Oke oke, Rara turun di sini!"
Oh God, temannya datang, gimana?!
Aku gak tau harus mikir apa. Isi kepalaku kosong ditambah kondisi jantung yang semakin memperparah keadaan. Denyutannya sangat menyiksaku. Aku mencoba kuat, tanganku gemetar.
Dia semakin dekat, sial!
Aku ingin kabur, lampu merah! Aku ingin bergeser ke samping lalu kabur, lalu lintas sedang padat. Tak ada ruang untukku bergerak. Ayo pikir, pikir!
Aagghh dadaku serasa ingin meledak! Aku harus apa?!
Gak ada manusia yang sempurna. Saya, kamu, dia, mereka, kita semua, gak ada satupun yang sempurna. Kita semua punya kekurangan, punya kesalahan, punya sifat-sifat yang tidak/kurang baik, penuh kealpaan. Tapi, kita semua masih dan harus bisa membuka pikiran, mencari data/informasi yang sesuai dengan fakta, melihat sesuatu dari beberapa sudut pandang yang berbeda, agar bisa mendapatkan perbandingan, menganalisa permasalahan yang sebenarnya, mendiskusikannya dengan hati dan akal sehat, hingga pada akhirnya bisa menarik suatu kesimpulan atau mengambil keputusan yang benar, baik dan sesuai dengan pertimbangan akal sehat dan kemurnian hati.
Saya lagi ngomongin Pilpres yang sebulan terakhir benar-benar memberikan perasaan warna-warni buat saya. Kesal, senang, marah, bahagia, sedih, terkejut, terharu, semuanya campur aduk. Kata orang sih, kalau kita udah suka sama satu orang, bagaimanapun ceritanya, penilaian kita akan jadi subjektif (kebanyakan). Benar (yang saya rasa). Tapi, harusnya kita masih bisa kasi porsi untuk sisi objektifnya. Mmm, kali ini kayaknya saya agak pintaran dikit nulisnya.
Ini ramadhan ke 29 sejak saya dilahirkan. Mmm, I don't mind with that number. For your pleasure, I'm 29 years old. Umur kan bukan sesuatu yang harus ditutupi, gak bisa kita cegah juga nambahnya. Walaupun kadang saya heran juga sih, cepat bener saya tuanya. Perasaan baru aja kemarin saya lahir trus belajar jalan belajar ngomong (sok ingat), masuk SD sampai tamat SMA, kerja lalu tamat kuliah, hingga jadi jomblo yang belum nikah juga sampai tulisan ini saya muat *sigh
Saya udah lama gak nulis sesuatu di sini. Kepala saya udah penuh sesak sebenarnya minta dikosongin. Bukannya gak mau, tapi saya memang gak sempat atau versi jujurnya, saya malas. Malas.
Kali ini saya sedikit memaksa diri saya untuk menulis ini, mumpung kejadiannya masih baru, masih panas, baru diangkat dari kuali, not from the oven, karena mama belum punya oven.
You know what? I am pissed off!
Sama siapa?
Saya juga gak tau jelasnya sama siapa. Sama semua yang berkaitan dan bertanggung jawab akan hal ini lah pokoknya. Mungkin kalau kamu tinggal di Medan, atau saat ini sedang pulang kampung atau lagi plesiran mengunjungi kota saya ini, kota terbesar ketiga di Indonesia (masihkah?) ini, kamu pasti tau kalau saat ini di beberapa ruas jalan di sini sedang mengalami perbaikan.
Bukan perbaikan ding, mmm, penggalian jalan untuk pemasangan pipa-pipa beton segede gaban yang katanya buat aliran air limbah. Saya sih dengarnya gitu, karena saya belum sempat tanya ke bapak-bapak yang lagi kerja.
"Stupid!? Stupid is, watching all your friends make plans for their futures and realising that you have none at all. No plans. No college. Nowhere to go. All I have here is my boyfriend and, and I have no idea what I am doing!"
I know it Rachel, I know. I can feel it too, cause I had been there, maybe mine was worst. You are lucky, still have Finn, your boyfriend, with you. I have none, nothing.. *sigh
Biar saya tulis di sini ya. Saya lagi suka-sukanya sama lagu ini. Coba dengerin dulu..
Enak kan? Buat saya sih enaakk!
Sebenarnya saya gak tau banyak lagu The Killers, cuma dua malahan. Mr.
Brightside sama yang ini, Just Another Girl. Lagu ini sebenarnya juga gak
sengaja ketemunya, waktu lagi acak-acak tumblr orang yang muat tentang Glee
(FYI yang gak penting, saya lagi maruknya nonton Glee, baru nyampe season 2 episode 7, paling suka
sama Rachel :D), ada lagu ini, coba didengerin, eehh enak sekaliii! Hahah,
bahasanya.
Ada Dianna Agron nya juga!
Makin sukaa!
Apa mau dikata, saya jatuh cinta sama lagu ini pada
pendengaran pertama. Mulai dari bagian awal hingga reff pertama, lagu ini
sukses buat telinga saya terbuai, mata saya menerawang jauh, hati saya
menjerit, miris. Bagian seterusnya sukses buat saya jingkrak-jingkrak
jejeritan, haahh.
Buutt, the most important part
of this song which really touch me is the lyric. You know which part is it?
"DIII! Stop! Just shut
up, close your mouth, don't speak, ok?"
Lagu ini membuat saya
berpikir, jauh ke dalam hati saya. None of my friends had told me this, but
this song.
Saya pikir saya sudah
melakukannya dari dulu, tapi ternyata masih belum. Tanpa saya sadari, saya
masih hidup dalam bayang-bayangnya. Suka atau tidak, harus saya akui dia masih
tetap yang terbaik, I have no one else.. yet. It sucks sometimes.
Mata itu, punggungnya yang
membelakangi saya, semua kenangan itu.. Saya belum mendapatkan penggantinya. Haaahh, life must go on
right? So, as this song told me..
I SHOULD MOVE ON
He's just another boy
Don't let him stick it to my
heart so hard
"Come on Dist, hold my hand, let's
jump, enjoy this music!"